Ulasan Novel Laut Bercerita - Leila S. Chudori

 


GHIRAHBELAJAR.COM - Oleh: Laskar Badar Muhammad

Sinopsis


Novel ini bercerita tentang seorang bernama Biru Laut bersama teman-teman aktivisnya yang diculik dan disiksa secara keji di masa akhir orde baru. Laut dan teman-teman aktivisnya itu dianggap sebagai pemberontak yang bisa membahayakan negara. Orde baru dengan segala tindak otoriternya membasmi segala bentuk perlawanan terhadap kekuasaan. Organisasi yang diikuti Laut dan teman-temannya termasuk salah satu organisasi terlarang yang musti dibasmi.

Dalam novel, Laut yang dibunuh dengan cara ditenggelamkan ke laut itu dikisahkan mengingat semua kejadian yang penuh perjuangan semasa mengikuti organisasi Winatra di detik-detik sebelum kematiannya di dasar laut. Semua kejadian itulah yang akhirnya menjadi rentetan cerita dan isi dari novel ini.

Menceritakan saat awal-awal Laut bertemu dengan Kinan dan Bram yang menjadi awal mula keikutsertaan Laut di organisasi Winatra. Kegemaran Laut akan sastra serta punya kemampuan menulis menjadikan Laut dipercaya menjadi sekretaris Winatra di kemudian hari. Kemampuan literasi dan sastra Laut terdukung oleh bapaknya yang merupakan seorang wartawan dan punya koleksi novel-novel perlawanan mulai dari novelis lokal maupun internasional.

Menceritakan beberapa kegiatan Winatra dalam memperjuangkan hak-hak petani jagung di Blangguan ataupun di Bungurasih. Seiring berjalannya waktu Laut dianggap sebagai salah satu pentolan di organisasi Winatra. Tulisan-tulisannya membuat pemerintah kala itu terusik dan merasa harus membungkamnya.

Menceritakan masa-masa buron setelah Winatra dianggap sebagai organisasi terlarang. Meskipun para anggotanya diburu, Winatra tetap melakukan misi-misinya secara senyap dan gerilya di bawah tanah. Semasa buron, Laut juga teman-temannya berpindah-pindah tempat tinggal untuk mencari keselamatan.

Menceritakan masa penangkapan, penyekapan, dan penyiksaan yang dialami Laut dan teman-teman aktivisnya. Penyiksaan fisik dan mental selama dua bulan lamanya di markas pasukan khusus Elang. Pada bagian ini juga terjadi pengkhianatan yang dilakukan oleh salah satu anggota Winatra. Hal itu membuat bagian tersebut lebih terasa emosional daripada bagian-bagian sebelumnya.

Menceritakan Asmara, adik Laut yang berjuang menuntut keadilan bersama para keluarga aktivitis lainnya. Laut dan beberapa temannya yang dihilangkan menyisakan luka yang amat dalam bagi para keluarga yang ditinggalkan. Perjuangan Asmara dan keluarga korban dipenuhi segala macam perasaan yang dicampuradukkan menjadi satu.

Resensi


Novel yang layak mendapatkan apresiasi karena bisa jelas terasa proses penulisannya pastilah rumit. Meskipun begitu kekuatan pengetahuan dan wawasan serta kedalaman riset dan observasi Leila S Chudori berhasil menutupi kerumitan yang ada. Itu terbukti jika kita membaca bab Ucapan Terima Kasih pada bagian akhir novel. Leila menceritakan proses penulisannya yang memakan waktu yang tidak sebentar. Juga berbagai riset maupun wawancara yang dilakukannya untuk menguatkan ruh cerita yang dituliskan.

Alur dari novel bisa dibilang cukup ekstrem. Pada bagian awal novel pembaca disuguhkan dengan konflik utama yang digantungkan. Dilanjutkan rangkaian cerita flashback bercabang-cabang yang muncul dari beberapa karakter yang ada. Terkadang cabang cerita terasa menjauh dari benang merah. Bagi pembaca pemula mungkin akan mendapati kebingungan manakah cerita yang menjadi benang merahnya.

Menjadi sangat menarik bahwa dalam satu novel terdapat dua sudut pandang (point of view) sekaligus. Bagian pertama: “aku” dari sudut pandang Laut dan bagian kedua: “aku” dari sudut pandang Asmara. Entah mengapa meski masih dalam satu novel yang sama namun feel pada masing-masing sudut pandangnya berbeda. Karakter penulisannya juga terasa berbeda. Dalam hal ini, bagian sudut pandang Asmara lebih terasa sederhana, emosional, dan asik dibaca.

Berbicara soal karakter menurut A. S. Laksana seperti anak daripada penulis itu sendiri. Mereka punya sifat serta kepribadiannya masing-masing. Novel ini menghadirkan karakter Laut dan Asmara sebagai tokoh utamanya. Kakak beradik yang punya kepribadian berbeda sama sekali. Perbedaan yang pada akhirnya bisa disatukan dalam cinta dan kasih sayang. Yang merasakan keberadaan sesuatu justru ketika sesuatu itu hilang. Meskipun sesuatu tersebut tak sama dengan kita.

Namun di sini nampaknya Leila terlalu banyak memasukkan karakter pendukung dalam rupa teman-teman aktivis Laut. Bisa dipahami bahwa keberadaan mereka menjadi bumbu pelengkap cerita dari tokoh utama. Namun dengan karakter sebanyak itu bahkan dengan masing-masing latar belakang yang diceritakan tak kalah detail dari cerita utama menjadikan rawan terjadinya pecah fokus pada pembaca. Ini yang di awal tadi disebut kebingungan mencari benang merah bagi pemula.

Itu terbukti semua teman-teman aktivis Laut tertulis masing-masing namanya serta latar belakang kehidupannya. Yang mana itu menandakan ceritanya seolah-olah juga tak kalah penting atau sama bobotnya dibandingkan dengan cerita sang tokoh utama. Namun di luar itu, effort Leila dalam membangun karakter-karakter itu tentu saja tak bisa diabaikan begitu saja. Jelas hal itu tercipta dari proses yang tak mudah dan sederhana.

Novel ini merepresentasikan pengetahuan serta wawasan literasi Leila yang luas. Dalam novel disebutkan beberapa novel perlawanan yang ditulis oleh penulis-penulis luar. Juga lagu-lagu yang liriknya bertemakan perjuangan dan perlawanan yang dinyanyikan oleh musisi-musisi terkenal.

Novel bertemakan perlawanan ini membuka mata serta hati pembaca terhadap sejarah kurang mengenakkan yang pernah dialami oleh bangsa ini. Leila ingin menunjukkan kepeduliannya terhadap keluarga-keluarga korban penghilangan paksa oleh Orde Baru yang hingga kini masih belum menemui kejelasan.

*
Pada akhirnya novel ini mengingatkan kita pada salah satu syair yang ditulis oleh W. S. Rendra berjudul Paman Doblang. Syair yang juga menceritakan seseorang dikurung dan mendapati rupa-rupa siksaan demi siksaan. Dalam syairnya, Rendra menuliskan apa yang diucapkan Paman Doblang yang barangkali itu menjadi pemantik inspirasi bagi para pejuang keadilan yang memperjuangkannya dalam bentuk apapun. Termasuk salah satunya dalam bentuk tulisan.

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Kebeberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata

Posting Komentar

0 Komentar