Anak Didikmu Bisa Menjadi Penyebab Kamu Masuk Surga


 

GHIRAHBELAJAR.COM, Oleh: Syahrul Mubarok

“Siapa tahu, salah satu anak didik kita yang akan menjadi alasan kita untuk masuk surga.”

Pagi ini ada suasana berbeda di madrasah kami. Tiga orang guru dengan sigap bertugas menaikkan bendera, yang lainnya ada yang membaca teks UUD 1945, Pancasila, dan do’a. Di sudut lapangan, seorang guru lagi terlihat sibuk menggerakkan tangannya memandu tim paduan suara. Sisanya ada di tengah lapangan berbaur dengan peserta upacara, bertugas sebagai komadan upacara dan pemimpin pasukan. Pemandangan ini menjadi rutinitas tahunan setiap tanggal 25 November sesuai dengan SK Presiden RI No. 78 Tahun 1994 yang menjadikan tanggal ini sebagai hari yang istimewa dan penghargaan bagi para guru.

Sepenggal kalimat di atas yang menjadi pembuka tulisan ini masih terngiang di hati dan pikiran, kalimat yang diucapkan oleh Ust. Annas Khairullah, S. Th. I Kepala MI Miftahul Huda Muhammadiyah yang bertugas sebagai pembina upacara hari guru nasional pagi ini: “Siapa tahu, salah satu anak didik kita yang akan menjadi alasan kita untuk masuk surga”.

Ada banyak literasi Islam yang menjelaskan tentang ilmu yang bermanfaat sebagai amal jariyah bagi seorang guru. Salah satunya adalah hadis yang popular berikut:

إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ وَعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ وَوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

Artinya: "Jika seseorang meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara (yaitu): sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau doa anak yang sholeh." (HR Muslim).

Begitu juga redaksi hadis riwayat Ibnu Majah dan Baihaqi tentang tujuh amalan yang tetap kekal meskipun orangnya sudah meninggal, Rasulullah SAW menempatkan pekerjaan seorang guru (عِلْمًا عَلَّمَهُ = Ilmu yang diajarkan kepada orang lain) sebagai amalan nomor urut pertama dalam hadits tersebut.

Ketiga hadits ini sudah cukup menjadi pelipur lara bagi para guru di tengah segala tantangan yang ada, setidaknya bisa menjadi motivasi dalam menjalankan tugas mereka sebagai pendidik. Namun apakah sudah cukup amalan ini sebagai modal untuk menebus surga seperti kalimat yang tersemat di atas?. Bagaimana dengan niat dan pemilihan metode dalam mendidik?

Bukankah ulama telah bersepakat kedua hal tersebut menjadi syarat utama diterimanya amal. Ibn al-Qayyim dalam kitabnya I’lam al-Muwaqi’in, amal seorang hamba dibagi menjadi 4 kategori, tetapi hanya 1 amalan yang yang diterima, yaitu amal yang memenuhi niat dan cara yang dibenarkan menurut syariat. Sedangkan 3 kategori lainnya tertolak karena tidak memenuhi syarat keduanya. Kedua hal ini seharusnya menjadi topic utama dalam refleksi seorang guru dalam memperingati hari guru nasional.

Maka, bagi seorang guru hendaknya meluruskan niat mendidik dengan sikhlas-ikhlasnya untuk mencari ridha Allah SWT. Karena amalan yang dilakukan tanpa niat yang ikhlas akan terasa berat dijalankan, Imam Sufyan ats-Tsauri mengatakan dalam Tadzkirah as-Saami’ wa al-Mutakallim, “Tidak ada sesuatu pun yang lebih berat untuk aku obati daripada niatku”.

Kesejahteraan guru memang selalu menjadi isu hangat di negeri ini, banyak guru yang harus memikirkan kebutuhan hidup pribadi dan keluarganya di tengah kesibukannya dalam mengajar. Sehingga wajar banyak guru yang akan terbagi fokusnya antara mengajar dengan penuh integritas, atau berupaya mencari sumber penghidupan lain sebagai tambahan dalam upaya memenuhi kebutuhan hidup yang belum bisa dipenuhi dari penghasilannya sebagai seorang guru.

Ada juga fenomena yang lebih miris, sebagian guru yang sudah lebih baik nasibnya karena kesejahteraannya telah dipenuhi oleh pemerintah sebagai guru PNS, guru Non PNS penerima tunjangan profesi, dan guru penerima tunjangan inpassing. Karena tuntutan regulasi dari pemerintah, masih ditemukan di antara mereka yang lebih sibuk merapikan administrasi sebagai seorang guru penerima gaji dari pemerintah daripada sibuk bagaimana menjadi seorang guru yang baik.

Sebagian dari mereka beralasan karena khawatir honornya tidak dicairkan hanya karena berkas administrasinya tidak lengkap. Hal ini harus menjadi perhatian, bagaimana seorang guru harus bisa mengelola pekerjaannya, jangan sampai niatnya berubah dari seharusnya ikhlas karena Allah menjadi karena motif ekonomi yang lebih dominan. Padahal jika telah sepakat bahwa mendidik adalah ibadah, maka niat yang ikhlas harus selalu mengirinya.

Ingatlah Allah tidak akan membiarkan begitu saja hambanya yang ikhlas dan bersungguh-sungguh dalam beramal. Dalam sebuah hadits qudsi yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda:

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُوْلُ : يَا ابْنَ آدَمَ! تَفَرَّغْ لِعِبَادَتِيْ، أَمْلأْ صَدْ رَكَ غِنًى، وَأَسُدَّ فَقْرَكَ، وَإِنْ لاَ تَفْعَلْ مَلأْتُ يَدَكَ شُغْلاً، وَلَمْ أَسُدَّ فَقْرَكْ

Artinya : “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman, ‘Wahai anak Adam!, beribadahlah sepenuhnya kepada-Ku, niscaya Aku penuhi (hatimu yang ada) di dalam dada dengan kekayaan dan Aku penuhi kebutuhanmu. Jika tidak kalian lakukan niscaya Aku penuhi tanganmu dengan kesibukan dan tidak Aku penuhi kebutuhanmu”.

Berdasarkan hadits ini, ketika seorang guru tidak ikhlas dalam menjalankan tugasnya sebagai pendidik, bisa jadi malah akan membawa keburukan baginya berupa kesibukan yang tidak menghasilkan apa-apa untuk memenuhi kebutuhan.

Syarat diterimanya amal yang kedua adalah cara yang benar, yaitu dengan meneladani Rasulullah SAW. Dalam konteks sebagai seorang guru, maka Nabi Muhammad SAW merupakan sosok yang paling ideal untuk dijadikan panutan. Karena salah satu tugas beliau sebagai nabi utusan Allah adalah mendidik orang-orang di sekitarnya sebagai bagian dari metode dakwah beliau. Murid-murid beliau lintas generasi dan gender, ada yang usianya masih sangat muda, ada yang sebaya dengan beliau bahkan yang lebih tua dari beliau.

Untuk setiap tingkatan usia dan situasi yang berbeda beliau memilih pendekatan yang berbeda agar dapat menyampaikan materi pelajaran dengan baik kepada murid-muridnya. Selain itu, sebagai seorang guru, beliau bukan hanya mengajar setelah itu dilepas begitu saja. Tetapi juga memberikan contoh dengan kepada murid-muridnya baik dalam proses pembelajaran secara langsung maupun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Sosok guru seperti itulah yang seharusnya menjadi teladan guru yang baik. Seorang guru dituntut tidak hanya menjadi pengajar di kelas, tetapi juga menjadi contoh di luar kelas.

Tujuan pendidikan nasional di antaranya adalah mencetak manusia yang bertakwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia. Dalam konteks pendidikan, derajat manusia yang bertakwa dan berakhlak mulia akan mampu dicapai salah satunya dengan metode keteladanan yang dalam bahasa Arab kita kenal dengan kata uswah

Kata uswah secara bahasa berarti penyembuhan dan perbaikan. Menurut ar-Raghib al-Ashfahani, uswah adalah suatu keadaan ketika seseorang mengikuti orang lain, baik dalam kebaikan ataupun dalam kejelekan. Nabi Muhammad kita kenal sebagai uswatun hasanah, maksudnya adalah sosok yang bisa dijadikan teladan kebaikan.

Seorang guru yang meneladani Rasulullah juga hendaknya menjadi uswatun hasanah bagi murid-muridnya. Jika seorang guru mampu menjadi sosok teladan yang baik bagi murid-muridnya, maka kalimat “Siapa tahu, salah satu anak didik kita yang akan menjadi alasan kita untuk masuk surga” benar-benar bisa terwujud. Ilmu yang diberikan oleh seorang guru kepada muridnya akan menjadi amal jariyah, bahkan menjadi syafaat kelak di akhirat.

Sebaliknya jangan sampai menjadi yang uswatun sayyi’ah atau teladan keburukan seperti peribahasa yang sangat popular ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’. Allah SWT berfirman dalam surat ash-Shaff ayat 2 dan 3, sebagai berikut :

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ -

كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ .

Artinya : “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Sangat besarlah kemurkaan di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.”.

Maka dari itu, sebagai refleksi hari guru nasional tahun 2022 ini, mari sama-sama kita sebagai guru kembali bermuhasabah seraya meluruskan niat yang ikhlas dan berupaya meneladani Rasulullah SAW dalam menjalankan tugas mulia mendidik generasi penerus bangsa dan negara. Mudah-mudahan dedikasi para guru dalam dunia pendidikan diterima dan dinilai sebagai ibadah jariyah yang pahalanya akan dilipat-gandakan serta menjadi syafaat kelak di akhirat.


Selamat Hari Guru
Teknologi semakin menakjubkan, tapi peran guru tak akan tergantikan.

Posting Komentar

0 Komentar