Mengulik Kearifan Lokal Budaya Betawi


GHIRAHBELAJAR.COM, Oleh Nuril Millah Karimah*

Pembentukan suatu komunitas etnis secara umum bergantung pada ‎ketersediaan sejumlah faktor yang menjadi sumber pembentukan identitas ‎yang membedakannya dengan komunitas etnis lain. Faktor-faktor tersebut ‎dapat berupa kesamaan geografis, ciri-ciri khusus, kesamaan adat istiadat, ‎mitos-mitos, atau asal-usul sejarah yang unik. Dalam prosesnya, ‎pembentukan kelompok etnis itu dapat tumbuh akibat tekanan faktor luar ‎yang mendorong anggotanya untuk mengaksentuasikan kekhasan mereka, ‎dan mengembangkan lebih jauh perbedaan itu dengan melibatkan suatu ‎agama, bahasa, mitos, adat istiadat atau faktor lainnya.‎

Dalam suatu suku atau komunitas memiliki suatu kearifan lokal yang ‎dimana kearifan lokal meruupakan suatu ungkapan budaya yang khas yang ‎didalamnya terkandung tata nilai, etika, norma, aturan, dan keterampilan. ‎Bahkan tak jarang yang tau bahwa kearifan lokal memiliki peranan penting ‎dalam setiap aktivitas bermasyarakat.‎

Dalam suku Betawi kearifan lokal ini terbentuk dari perpaduan ‎berbagai etnik yang ada di Jakarta mulai dari zaman kolonial Hindia Belanda ‎dampai hari ini. Kebudayaan ini terbentuk dengan tujuan sebagai upaya ‎untuk bertahan hidup dan menjawab berbagai tantangan yang ada dalam ‎proses interaksi sosial para kaum pendatang di Jakarta. Mengulik dari tulisan ‎Ekajati tentang nilai moral budaya Sunda bahwa nilai moral budaya etnik ‎Betawi merupakan jati diri dari etnik Betawi bersumber pada nilai, ‎kepercayaan, dan peninggalan budaya Betawi yang dijadikan sebuah acuan ‎dalam bertingkah laku. Kearifan lokal etnik Betawi digali, diproses, dan ‎dikemas, dipelihara, dan dilaksanakan dengan baik agar bisa berfungsi ‎sebagai pemersatu dalam multikultur yang terus berkembang di Jakarta.

Sumatra Barat dikenal dengan suku Minangkabau, Sumatra Utara dengan suku Batak, Jawa Barat dikenal dengan Sunda, Kepulauan Riau dikenal dengan Melayu, Papua dikenal dengan Asmat begitu pun dengan DKI Jakarta yang dikenal dengan Suku Betawi. Kedua hubungan tersebut antara Suku Betawi dan Kota Jakarta akan terus melekat dikanal masyarakat Indonesia bahwa penduduk asli Kota Jakata ialah Suku Betawi ‎yang bermukim di daerah Jakarta serta tempat penyinggahan lainnya seperti ‎Bogor, Depok, Tangerang, Banten, Bekasi.‎

Keberadaan Betawi yang selama ini diklaim sebagai suku pertama ‎bagi penduduk Jakarta, juga merupakan yang terakhir dalam struktur sejarah ‎bangsa Indonesia. Seiring berkembangnya Jakarta menjadi ibu kota negara, ‎ruang hidup orang Betawi telah dipindahkan dari ibu kota, tempat tinggal ‎asli dan sumber terbentuknya masyarakat Betawi. Hal ini karena wilayah ‎yang semakin sempit dan persaingan hidup yang ketat di Jakarta, yang ‎sebagian besar Betawi tidak mampu. Beberapa komunitas/pemimpin Betawi ‎yang dapat bertahan hidup di Jakarta memiliki persyaratan tertentu ‎tergantung pada kebutuhan hidup di ibu kota. Berkaitan dengan hal ‎tersebut, upaya pelestarian nilai-nilai budaya lokal Betawi menjadi bagian ‎penting dari masyarakat Betawi di dalam maupun di luar Jakarta untuk ‎menjaga identitasnya di tengah batas-batas etnis penduduk Jakarta yang ‎semakin kabur saat ini.‎

Kearifan lokal merupakan sebuah bentuk pemaham, keyakinan, adat ‎kebiasaan yang diciptakan oleh masyarakat lokal itu sendiri yang dilakukan ‎dari satu generasi ke generasi selanjutnyaa dalam menjawab berbagai ‎permasalahan dalam menghadapi tantangan hidup kedepannya. Kearifan ‎lokal itu sendiri juga menjadi sebuah identitas dalam mengenal suatu suku, ‎budaya, agama, dsb, didalam kearifan lokal tersebut tidak hanya terdapaaat ‎aktifitas tertentu pada suatu komunitas melainkan didalamnya juga terdapat ‎sebuah norma, etika, dan tata nilai yang terkandung.‎

Secara umum menjelaskan budaya dan nilai kearifan lokal ‎masyarakat Betawi yang dikembangkan oleh Abdul Chaer (2012) dalam ‎salah satu tulisannya tentang tradisi rakyat Betawi: Betawi, Bahasa, Sanpo, ‎Irama, Rakyat Lagu, Humor Betawi, Permainan Anak Betawi, Upacara ‎Daur Hidup (Kelahiran, Perkawinan, Kematian), Makanan, Minuman, Buah, ‎Interaksi Sosial, Arsitektur, Seni, Kesehatan, Pakaian, Kehidupan dan ‎Sumber Daya Peralatan Rumah Tangga. Hal ini telah menjadi budaya ‎masyarakat Betawi karena menjadi bagian dari perilaku pengetahuan, ‎diungkapkan dalam perilaku kehidupan sehari-hari dan memiliki identitas ‎unik yang membedakan etnis lainnya.‎

Salah satu diantara kearifan lokal yang sangat dikenal oleh masyarakat lain ‎ialah bahasa yang dipakai oleh Suku Betawi. Dalam menggunakan dialeknya ‎suku Betawi memiliki karakteristik tersendiri yang merupakan cerminan dari ‎keseluruhan budaya Betawi yang merupakan hasil perkawinan berbagai adat ‎yang berasal dari bagian lain nusantara maupun budaya asing. bahasa informal atau sehari-hari adalah Bahasa Indonesia Betawi. Dialek ‎Betawi sendiri terbagi menjadi dua jenis: dialek antara Betawi dan dialek ‎sekitar Betawi. Dialek Betawi Tengah biasanya dibaca sebagai "é" dan ‎dialek Betawi sekitarnya sebagai "a". Dialek Betawi Tengah atau Tengah ‎adalah tempat awal mula kota Jakarta, yaitu desa Betawi sekitar Kota, ‎Jakarta, Sawa Besar, Tugu, Shilinzing, Kemayoran, Senen, Kramat, Tuan ‎sebelum negara, sebagai upaya terakhir tidak boleh dilewati (Jatinegara) ‎Selatan. Dialek Betawi terdekat mulai dari Jatinegar, Condet, Jagakars, ‎Depok, Rawa Belong, dan Chiputat di selatan dan memanjang dari tepi ‎selatan ke Jawa Barat. 

Benjamin S., Ida Royani, dan Amina Sendrakasih ‎berasal dari daerah Kemayoran dan Kramat Sentiong, contoh penggunaan ‎dialek Betavi abad pertengahan. Sedangkan Mandra dan Pak Tile adalah ‎contoh penutur Betawi di sekitarnya. Contoh paling mencolok adalah ketika ‎Anda mengatakan kenape/kenapa '' (mengapa). Dialek Betawi tengah ‎dengan jelas mengatakan "é", sedangkan Betawi pinggir bernada “a” keras ‎mati seperti “ain” dan Betawi pinggir bernada "a" keras mati sama seperti ‎mengucapkan huruf “ain” mati dalam prodesur baca Al-Quran.

Mengingat filosofi hidup orang Betawi “masih kecil belajar ngaji, remaja ‎belajar silat, dan sudah tua naik haji.” Filosofi ini memberikan kita sebuah ‎gambaran bagaimana sikap dan praktik baik nya hubungan orang Betawi ‎dengan Tuhan-Nya. Hubungan tersebut ditanamkan dari generasi seblumnya ‎ke generasi selanjutnya dari sejak dalam kandungan, mereka sudah ‎memberikan anak-anak mereka lantunan ayat Al-Quran sejak dalam ‎kandungan, bayi baru lahir mereka mengucap rasa syukur kepa Tuhan Yang ‎Maha Esa dengan cara melakukan upacara Akekah, dalam pelaksanaan itu ‎ mereka tak luput dari pandangan guru dan orangtua mereka sebagai bentuk kepatuhan.

Pada awalnya masyarakat etnik Betawi seorang petani kebun sehingga tidak ‎heran jika di kota besar di Jakarta terdapat beberapa kota yang Namanya ‎diawali dengan kata kebun seperti Kebon Jeruk, Kebon Siri, Pedurenan Jati, ‎dsb. Pada setiap hari Jum’at para petani di Jakarta melakukan sebuah ‎upacara pada Bertani yang tujuannya untuk memperoleh berkah dan ‎keselamatan serta ucapan terima kasih kepada yang menjaga tanah mereka ‎agar memperoleh hasil yang lebih baik. ‎

Terdapat berbagai macam bentuk dasar interaksi manusia masyarakat Betawi ‎yang selalu mereka utamakan seperti kejujuran, toleransi, terbuka, dan ‎egaliter, pantang menyerah, humoris, kreaif dan inovatif, percaya diri, ‎tangguh, ramah, rela berkorban.‎

Kompleksitas rasial Jakarta merupakan indikator umum konflik sosial atas ‎isu etnisitas dan keragaman. Pembahasan adat dan kesepakatan damai ‎menjadi salah satu bentuk upaya penyelesaian sengketa baru. Dalam banyak ‎kasus, konflik rasial di Jakarta cenderung dipicu oleh perebutan lahan untuk ‎bertahan hidup yang menyusut seiring dengan bertambahnya jumlah ‎pendatang. Tradisi damai dipimpin oleh seorang tokoh agama setempat ‎untuk menyelesaikan perselisihan yang dapat mengancam ketertiban umum ‎Jakarta.

Identitas etnis memberi kita petunjuk tentang siapa kita, siapa kita, dan siapa ‎orang lain. Ras asli Jakarta, Betawi, menghadapi tantangan besar untuk ‎mempertahankan identitas yang semakin menipis akibat kekuatan yang ‎berkembang yang mendorong proses migrasi ke luar Jakarta karena semakin ‎terbatasnya ruang sesuai dengan potensinya. dan kemampuan. Namun, suku ‎Betawi berkomitmen kuat untuk melestarikan identitas yang terkait dengan ‎integrasi dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal di kalangan masyarakat ‎Jakarta saat ini. Kebijakan pemerintah melalui pendidikan, peraturan daerah, ‎dan munculnya Pusat Kebudayaan Betawi membuktikan komitmen mereka ‎terhadap identitas. Jakarta adalah kota terbuka yang tidak melupakan nilai-‎nilai lokal yang ada sampai sekarang.

*Mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka ‎

Posting Komentar

0 Komentar